Semalam selepas pulang dari masjid untuk menunaikan sholat maghrib saya
berpapasan dengan teman satu kost yang akan pergi dengan motornya. "Mau
kemana Jay ?" tanya saya pada Jaenudin yang masih mengenakan baju
sholatnya. "Cari makan" jawabnya singkat. "Eh bawa uang berapa ?" tanya
saya padanya. "Insya Allah ada lah" timpalnya yang sudah paham dengan
maksud pertanyaan saya

.
Langsung saja saya meluncur naik ke atas boncengannya dan meninggalkan
teman seperjalanan saya. "Eh Yo, sudah makan belum ?" teriak saya
pada teman perjalanan saya sebelum saya naik keboncengannya
Jaenduin. "Oh sudah" jawabnya yang bagi saya sangat meragukan heehehee.
"Mau beli makan dimana nih ?" tanya saya pada Jae. "Di Toko sajalah
yang murah" jawab Jae sambil tersenyum. Yup, toko adalah sebutan bagi
kami dan teman-teman satu kost lainnya untuk sebuah warung makan yang
juga menyediakan kebutuhan jajanan lain layaknya sebuah toko. Ketika
kami sudah berada di depan "Toko" tadi dan melihat etalasenya hanya
tinggal sedikit dan tidak terlihat adanya tempe disana kami memutuskan
untuk cari ke tempat lain. Kami memang sedang ingin berhemat jadi kami
mencari makanan dengan lauk tempe yang relatif lebih murah dibanding
dengan lauk lainnya.
"Terus kemana nih ?" tanya saya ke Jae yang masih duduk di motornya.
"Ke Sederhana saja yuk !" ajak Jae memilih alternatif. Tempat yang
disebut Jae adalah sebuah warung makan yang berada di pinggir Jalan
Tamsis. Saya dan teman-teman kadang makan malam di sana karena memang
lumayan murah dan semuanya disajikan dalam kondisi yang masih hangat.
Ketika hampir sampai tempat tujuan ternyata tempat yang biasa dijadikan
warung Sederhana kosong yang berarti si Ibu tidak berjualan. Tahu
warung Sederhana tidak berjualan, Jae terus melajukan motornya, "Ke
Celeban saja Mat, ada warung yang murah disana" Jae mengusulakn satu
tempat yang belum pernah saya ketahui. "Wah ini niatnya mau cari makan
murah kok malah jadi boros bensin nih" menimpali usulan Jae untuk pergi
ke warung yang dia usulkan sambil ketawa dan Jae hanya nyengir saja.
Tiba di tempat yang dituju kembali kondisi yang tidak diharapkan di
awal terjadi lagi. Bukan karena tidak ada tempe ataupun si Ibu tidak
berjualan tapi karena ternyata disana sudah banyak yang antri. Kami
berdua sempet berdiskusi (walah) apakah mau menunggu atau mau cari
alternatif lain. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat
alternatif lain karena semakin lama warung yang ukurannya tidak lebih
dari 2 x 3 meter itu sudah semakin dipenuhi antrian di luar.
Jae sempat mengusulkan untuk makan di angkringan dekat kampus UAD tapi
tentu saja harus memutari jalan lagi yang berarti boros waktu dan juga
bensin. Akhirnya ketika di perjalanan kami sepakat untuk membeli
makanan di tempat yang dulu pernah jadi tempat kost saya. Saya bilang
ke Jae kalau disana rame dan saya sangat penasaran tentang itu. Saya
bilang ke Jae ada beberapa kemungkinan kenapa di warung itu rame.
Pertama, mungkin karena murah, kedua karena enak atau ketiga karena
murah dan enak.
Setelah sampai ke tempat yang dituju kami memilih bangku yang berada di
luar dan dekat tempat disajikannya makanan. Sudah ada beberapa
pelanggan yang datang dan juga sedang mengantri. Kami tetap memilih
makan disana saja karena sudah sangat lapar dan juga sebenarnya tempat
itu sudah dekat dengan kost kami. Lebih dekat daripada warung Sederhana
sebenarnya. Setelah memesan 2 porsi nasi tempe dan 2 gelas es teh (
yang sudah tentu manis ) saya dan Jae sempat menganalisa kenapa tempat
itu bisa ramai. Kesimpulan awal kami adalah mungkin karena banyaknya
menu yang sudah siap saji (sekedar perbandingan, biasanya di
warung-warung lesehan lain kami harus menunggu makanan yang kami pesan
untuk dimasak terlebih dahulu dan juga menu pilihannya sedikit).
Waktu terus berjalan mendekati waktu Isya tapi makanan yang kami pesan
belum juga datang. Karena saya berada persis di depan pelayan laki-laki
yang sedang melayani pesanan dari para pelanggan yang datang saya jadi
tahu ternyata tempe yang disajikan sudah habis dan sisanya masih sedang
digoreng."Yah ini mah sama saja ngantri Mat" keluh Jae yang sangat saya
sepakati karena ternyata warung ini semakin lama semakin ramai
dikunjungi.
"Maaf ya mas menunggu lama" sapa pelayan perempuan yang membantu si
pelayan laki-laki sambil tersenyum dan wajah meminta maaf. "Oh, tidak
apa-apa Mba" jawab saya sambil agar nyengir. Akhirnya setelah beberapa
menit kami menunggu pesanan kami telah datang. Saya sedikit kaget
bercampur senang karena ternyata satu porsi nasi tempe itu berisi 3
buah irisan tempe goreng yang berwarna kuning (di warung lesehan
biasanya kami cuma dapat 2 buah dan berwarna agak hitam). Ketika hal
ini saya tanyakan ke Jae yang emang pintar masak dia bilang mungkin
dimasak menggunakan bumbu kunir juga. Dan tahukah kalian bagaimana
rasanya tempe itu ? uiihh... benar-benar beda, enak sekali apalagi
ditambah sambal yang pedas-asin wuih...rasanya perjalanan yang kami
tempuh tadi tidak sia-sia. Saya malah sempat berfikir mungkin Allah
sedang ingin memberi tahu saya bahwa ada warung makan yang menjual
makanan enak yang berada di dekat kami. Saya berkali-kali memasukkan
sambal ke piring saya dan terus berkomentar soal enaknya sambal dan
tempe yang kami makan.
Selesai makan kami cepat-cepat bayar karena adzan Isya sudah
berkumandang dari tadi. Dan tahukah juga kalian berapa uang yang harus
kami keluarkan untuk 2 porsi nasi-tempe yang sangat enak itu plus 2
gelas teh ? heheheh.... kami hanya diminta untuk membayar seharga Rp.
5.500

untuk semuanya. Diperjalanan pulang saya mengira-ngira berapa harga
masing-masing nasi-tempe dan es teh. Hasil perkiraan saya adalah satu
porsi nasi-tempe mungkin harganya sekitar Rp. 2.000 dan satu gelas es
teh seharga Rp. 750. Ketika saya sampaikan perkiraan ini ke Jae dia
bilang "Wah besok kesini lagi saja ah, sudah enak murah lagi" dari sini
saya juga memperkirakan (seneng banget ya saya main perkiraan) mungkin
Jae juga tidak menyesal telah berputar-putar berkeliling mencari tempat
makan. Memang ya.... untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik harus
dengan perjuangan dan pengorbanan

.